// JEPRET  

DWINANDA AGUNG KRISTIANTO | CIBUBUR 

13 AGUSTUS - 16 SEPTEMBER 2017


 “… menjaga keseimbangan diri dengan menjaga keseimbangan alam."

Pohon jati yang ditebang karena sudah mati dan kering, agar tidak patah dan roboh menimpa rumah-rumah tetangga.

Pohon karet perkebunan disadap getahnya untuk akhirnya menjadi karet gelang, tanpa perlu pohon karet itu ditebang.

Ini tentang isu lingkungan.

Sebaiknya menanam, melestarikan dan menebang pohon dengan bijak, sesuai dengan kebutuhan. Bukan dieksploitasi secara paksa dan rakus untuk kepentingan ekonomi belaka, keuntungan yang rakus-serakah dan membahayakan pihak lain. 

Menebang pohon tidaklah selalu berarti-bernilai salah, asalkan berdasar pada kebutuhan yang mutlak, genting atau mendesak bagi kelangsungan hidup umat manusia. (Bukan untuk terus menerus sebagai pemuas keinginan-keinginan tertentu). 

Menaikan nilai hasil alam (pohon jati yang telah ditebang) sebagai material karya seni performance agar tidak dibuang-terbuang-mubazir.

… 

Berdiri diatas potongan pohon jati (gelondongan kayu jati), menjaga keseimbangan diri seperti menjaga keseimbangan alam. Tidak mudah dan mengeluarkan energi lebih didalam kesadaran penuh. Butuh perhatian dan fokus agar tidak lengah dan terlena mengeksploitasi. 

Terkadang dengan terpaksa-mendesak memang harus ada yang dikorbankan (timbulnya rasa sakit) seperti menebang pohon untuk kebutuhan produksi kertas. Sampai hari ini produk kertas masih tetap dibutuhkan untuk menunjang kelangsungan hidup umat manusia dalam beraktifitas. 

Tidak membuang begitu saja hasil alam (pohon jati), tetapi masih bisa dinaikan nilainya menjadi material karya seni. 

Niat berpikir & berlaku positif dalam setiap gerak. Di karya ini dibahasa-simbolkan melalui isu lingkungan hidup (alam). 

Penebangan dahan-dahan pohon tua menjelang musim hujan angin setelah musim kering perlu dilakukan di kawasan aktifitas publik. Agar tidak patah-roboh mencelakai yang ada dibawahnya. 

Penebangan secukupnya-seperlunya. Lebih baik bila memang tetap dimanfaatkan tanpa harus menebang pohon. Seperti pohon karet yang hanya cukup disadap getahnya untuk dijadikan karet gelang salah satunya. Produk alam (karet) yang sangat berguna walaupun sederhana. 

Berlaku mengedepankan keseimbangan untuk kebaikan membutuhkan fokus, ketekunan & konsistensi. Perlu dilakukan berkelanjutan-berulang-ulang, kontinuitas (repetisi).

FOKUS YANG MIRING, TIDAK LAGI LURUS. 

Merujuk pada perhitungan suatu kondisi fokus tidak bisa dikenakan ukuran pasti-tetap-stabil. Selalu akan ada kondisi “terpecah”; sampai pada situasi “disorganized” psikologis akibat dari durasi panjang, kejenuhan, kebosanan, kebuntuan pemikiran, nafsu-nafsu eksistensial, hingga latar belakang sejarah lahirnya pikiran dan gagasan yang tak terjelaskan, berasal dari ruang waktu antah berantah, dimana berlangsungnya momen-momen nampak zat-zat yang tidak / belum beridentitas mantap. 

Ada dan hadirnya lompatan-lompatan idea (versi Platon) yang tidak / belum memiliki sistem bahasa yang dapat mendeskripsikan – mendefinisikan kemunculannya secara utuh total. Terkadang memang adanya mereka tidak terdefinisikan atau tidak sampai didefinisikan. Sesuatu yang hanya kita “pahami” sebagai: a d a. Ini situasi batin yang secara otomatis dapat mengkonstruksi persepsi di kepala masing-masing. Persepsi-persepsi pada menit-menit selanjutnya pun dapat berpotensi terjadinya “ kegagalan – meleset ” ( mengalami kemiringan ringan hingga ekstrim ) ketika berbenturan dengan persepsi-persepsi yang lain di lingkungan sekitarnya. Namun persepsi-persepsi tersebut hakikatnya tidak saling melenyapkan, melainkan saling melengkapi akibat dari sifat mandiri (independen / ketunggalan) dari setiap persepsi yang lahir. Bantahan-bantahan hingga pengguguran terhadapnya hanya terjadi sebatas keniscayaan terselenggaranya situasi / suasana komunikasi yang bersifat eksistensial. Di luar situasi atau suasana ini persepsi bisa berkembang kemana-mana dalam keadaan berdiri pada dirinya sendiri (liar). 

Gambaran persepsi hampir sama dengan keadaan gerak-laju karet gelang yang di-jepret-kan…kita hanya bisa melesatkannya, setelah lepas dari diri kita (jemari tangan kita) kontrol terhadapnya tidak lagi ditangan kita. Dalam pergerakan lajunya karet-karet gelang itu menjadi mandiri beradaptasi dengan kualitas kandungan material zat-zat dalam karet dan faktor lingkungan sekitarnya (misal: hembusan udara, pemuaian karet sesuai suhu ruang, pergesekan & penghambatan oleh zat-zat yang terdapat didalam udara saat karet tersebut sedang melaju). 

Ke-miring-an selalu terjadi dan mungkin menjadi kepastian yang tak terbantahkan. Begitu pula dengan segala hal yang berhubungan dengan soal-soal fokus…tidak sepenuhnya bisa selalu berlangsung linear atau lurus selamanya, selalu berjalan dengan kecenderungan miring, berpotensi mengalami kemiringan di “atmosfer” tertentu. Ini tergambar juga dengan analisis dari Albert Einstein tentang gerak laju materi cahaya yang (ternyata secara ilmiah) bisa berbelok-lintasannya berupa garis melengkung. Cerita-cerita sejarah juga sering mengalami pembelokan.  Berbicara kemiringan, setiap insan manusia memang memilikinya versinya masing-masing, sebagian akan “jatuh” dalam gangguan jiwa berat dan sisanya akan menganggap itu sebagai: u n i k. Kemiringan bukanlah hal yang tabu / aib / dosa berat mematikan-penyakit menular ganas yang harus selalu mutlak ditekan-disingkirkan-hingga dimusnahkan. Kemiringan itu sesuatu yang dapat dengan berani mulai diapresiasi (positif), kita pandang sebagai kemanusiawian dari sosok manusia yang memang tidak ada yang sempurna. Selalu adanya celah-celah “negatif” yang memang diadakan-NYA untuk mengimbangi “positif” dalam diri manusia. Penilaian positif atau negatif pun bersifat relatif bergantung dari perspektif (sudut pandang) mana yang kita pilih untuk memandang dan menganggapnya. Berlaku luwes seperti karet jauh lebih baik.


//ENGLISH

'… maintaining self balance by keeping nature in equilibrium.'

A teak tree is logged because it is dry- it is dead. Such practicality for safety.

A rubber plantation with their saps tapped profusely to be processed as bands- but unlike the teaks, they do not have to be chopped down.

Inherently, environmental.

Thou shalt plant, preserve and log trees with subtlety, in accordance to what is necessary. Thou shalt not exploit with greed for mere riches and gold in danger of others.

Logging is not always undesirable, really. Provided it is an absolute need that in fact, almost crucial for survival of the human kind. (Not to repeatedly quench gold-dripping thirst).

Appreciating nature (chopped teak tree) as a creative material for the present, hence not wasted away.

...

Standing on a horizontally positioned teak spindle, keeping oneself in a balance as if the nature is in equilibrium. Such simple act is neither trivial nor for naught for it requires focus and projects strong sense of awareness. To stay guarded. To not be lulled by exploitation.

Often sacrifices are mandatory- like physical pain and barbaric axing of the trunk, a preliminary to producing paper. Such an irony that paper is in fact one of the most commonly used and substantial material for modern life.

Not simply chucking the residues aside but revaluating them as creative materials.

Strong-willed and positive-thinking in every move. This work communicates symbolically environmental (and natural).

Logging dry trunks of well-grown trees during the wet seasons- right after the dried weather caused the shrunk- requires public's surveillance. Activating safety measures- ensuring no danger for those beneath.

Log necessarily- sufficiently. It might have been apparently more ideal to avoid logging all together. Like rubber trees- simply sapped and the bands are after all equally as essential despite its common qualities.

Achieving good is all about balance. Focus. Persistence. Consistence. Repetition. Continuation.

The tangent focus- forthright no more.

A formula towards a focal point is no possible with definite measurements. Atomistic equations are inevitable; to the point of psychological disorientation resulted from long duration, fatigue, boredom, deadlocks, existential desires and up to the most extreme: the historical recollection of the brain with its myriad of contrasting ideas born from physically impossible timeline where unfamiliar particles have yet to form a singular, stable identity.

The very existence of Plato's theory of Forms exemplifies languages which are yet to be decipherable- their whole existence is yet to be defined. Often such vacancy is necessary- either the availability of definition or the incapability of deliverance. A form of presence we 'understand' as: i s. This is a mental response that automatically- almost instantly constructs perceptions within individual's capacity of thoughts. Its development within the next minutes is also potentially a failure (a skewed focal goes extreme) when collides with similar context surrounding it. Despite so, these existences are not naturally obliterating- in fact they are complementing one another due to their individual essence of independency. Defiance and its shedding is simply an inevitability that is existential in nature. Observed through macro perspective, this mathematically and physically complex equation is extensive in its development that might be eventually- and ironically independent.

The portrait of perception is almost quite similar to the quicksilver of rubber bands snapping. One could only control so much because as soon as it loses touch, control is no longer at hand. Its velocity adapts its chemical substances with external factors that are influenced by for instance air, temperature, resistance among many.

The equation will never be definitive and tangents are inevitable. Likewise for focus- it is often beyond control, not consistently linear, rarely forthright and gravitationally inclined. Albert Einstein in his acclaimed speed of light theory daringly states that light is in fact moves in curvy directions. Historically speaking, records are never straight forward.

Every independent living breath has their individualistic versions of tangent. Some will 'fall' into the realm of schizophrenia and the rest deciphers that as: u n i q e u. Mental tangents are not taboo and shall not be treated as a sinful subject as if it were a ferocious communicable disease that are bound to be annihilated. Skews need to be positively approached, appreciated and discussed intensively especially when its inevitability has been established. There will always be undesirable crevices that He bestowed upon living breaths to balance the virtuous side of them. Perceptions are after all subjective and maybe if were to be observed from this angle, that is what make human beings perfect- their imperfections. Lither be better. 

 


 
CURRICULUM VITAE
ARTWORK
PERFORMANCE DOCUMENTATION
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


dokumentasi foto oleh Aziz Amri dan Kelvin Atmadibrata
dokumentasi video oleh Aziz Amri
photo  documentation by Aziz Amri and Kelvin Atmadibrata
video documentation by Aziz Amri