// TERIACT  

RIDWAN RAU-RAU | BEKASI 

22 OCTOBER - 2 DECEMBER 2017


"Teriact" terdiri dari dua kata yaitu “Teri” dan “Act”. Teri yang saya maksud adalah ikan kecil yang berada dilautan dan Act adalah sebuah aksi dalam bahasa Inggris. Dua kata tersebut ketika dilafalkan atau diucapkan menjadi “TERIAK”. "

Teriact ini merupakan representasi sosial yang tengah terjadi dan saya rasa sangat mempengaruhi dan juga membebani dalam pikiran atas kekacauan dunia yang dilakukan oleh manusia. Ketenangan jiwa saya mulai terusik oleh kebenaran yang semu, salah benar tidak lagi mutlak adanya. Semuanya terasa buram untuk dilihat namun bisa sangat terasa perbedaannya namun sulit untuk berucap dan bertindak.

Rasa kemanusiaan saat ini mulai terkikis oleh perkembangan jaman yang begitu cepat merubah prilaku kita. Kepekaan akan solideritas antara sesama menghilang pelan pelan. Manusia sekarang bagaikan bubuk misiu yang jika terpecik bunga api sedikit dapat meledakan semuanya.

Fase ini membuat saya sangat bimbang dan gamang, sungguh ironis ketika kondisi yang saat ini terjadi saya melihat saya mendengar namun tidak bisa melakukan sesuatu.. “Bungkam” kehabisan kata kehabisan tenaga kehabisan pikiran sedih tidak bisa menangis, apatis bukan pilihan akan tetapi menyerah pun tak sanggup dielakan tetap berada diarus yang bergerak pesat jangan terbawa olehnya.


//ENGLISH

"Teriact" is “Teri” and “Act” combined. The former refers to anchovies in Bahasa Indonesia and the latter is an English verb that refers to well, act. Together, they are to be pronouncable as “TERIAK”, the vocabulary referring to the act of screaming.

Teriact is a current social representation of the commonplace that is intensely influencing and burdening the world’s order as a result of humans’ careless actions. This observation has affected my mental condition to the point where I can no longer differentiate what is right or wrong- not that it even matters in the first place. Everything has become visually blurry and it is very difficult to speak and act accordingly.

Humanity is slowly eroding, incapable to be on par with the fast developing modern era. It has changed the way we behave- as it may seems, constantly is turning for the worse. Solidarity and our sensitivity towards community is slowly vanishing. We are like gunpowder. A slight exposure to fire is capable of extreme annihilation.

I am left speechless, renderred useless. I simply observe and constantly yet passively anxious. My eyes see but my mouth and muscle are tight. I am silent or to be precise, mute. I have ran out of words, ran out of energi, filled with agony yet my tears won’t flow. Apathy is not a choice yet surrender is inevitable. I am stuck in a rapid stream, simply floating away.





 


 
CURRICULUM VITAE
ARTWORK
PERFORMANCE DOCUMENTATION
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



photo and video documentation by Kelvin Atmadibrata