// BEAST

KELVIN ATMADIBRATA | JAKARTA

13-15 JULI 2018 


Here we go round the mulberry bush
The mulberry bush
The mulberry bush
Here we go round the mulberry bush
So early in the morning


Mengembangkan narasi kematian, BEAST berhipotesis akan kemungkinan tersaksikannya sebuah pemandangan yang sublim sebelum seseorang menghempaskan nafas terakhirnya. 

Kelvin Atmadibrata biasanya membuat karya yang temanya lebih riang, maka subjek kematian ini bisa dikatakan tidak biasa. Mulanya, ia dikembangkan untuk program residensi di Tokyo bersama Tokyo Wonder Site (yang sekarang disebut Tokyo Arts and Space). Memori tersebut dipresentasikan lagi di babak kedua, atau lebih tepatnya, dihidupkan kembali melalui proses memutar balik sebagai sebuah upaya melanjutkan hidup. Walaupun pada akhirnya upaya tersebut dapat berhasil, ataupun tidak. BEAST menjadi sebuah eksperimen menyelidiki sebuah titik pertemuan antara kehidupan dan kematian itu sendiri. 

Karya performens ini melibatkan sebuah tubuh maskulin yang terinspirasi dari karya manga tahun 1999 oleh CLAMP yang berjudul X. Komik tersebut menceritakan sebuah kejadian kiamat dan si performer merupakan wujud hidup yang telah disesuaikan tentunya dari seorang karakter bernama Satsuki Yatoji yang sangat membenci manusia. Si performer merupakan tubuh pasif, bergerak sangat sedikit dan merundukkan badan seperti seorang anak kecil yang ketakutan. Identitasnya menjadi buram karena sebuah helm yang menutupi kepalanya. Bahkan, para pengunjungpun dapat menemukan sebuah pemandangan yang mungkin tidak asing- sebuah gambar kota di bagian utara Jakarta yang dikenal sebagai pusat perdagangan. 

Didekatnya, terdapat sebuah instalasi modular yang tersusun dari tiga belas kerajinan kertas hitam dan sebuah karya kolase yang merupakan konstruksi ulang (dengan interpretasi yang berbeda tentunya) dari karyanya di Tokyo. Sebuah karya yang merespon ruang, terdapat pula sebuah pancaran cahaya dari ruang belakang, seakan membisikkan sebuah petualangan selanjutya. 

Para pengunjung juga langsung disambut dengan sepasang gambar berjudul This is how the world ends. Not with a bang but a--- terinspirasi dari pembacaan puisi tahun 1925 oleh TS Eilot berjudul The Hollow Men yang tersendak, terputus dan tidak terlanjuti.Gambar tersebut juga diambil langsung dari sebuah adegan dari sebuah episode akhir Agents of S.H.I.E.L.D yang disutradarai oleh Jeffrey Bell. Episode tersebut berjudul World's End.  

BEAST berupaya untuk merubah ruang pamer Sepersepuluh menjadi sebuah situs RPG video game. Pemandangan yang bisa dianggap kolosal, seorang NPC yang ditemani dengan musik latarbelakang membentuk sebuah terjemahan atas Styx, sungai yang membentangi antara hidup dan mati. BEAST merayakan perjalanan yang penuh kehidupan- atau kematian melalui sebuah instalasi yang sifatnya romantis tapi disaat yang bersamaan agresif dan pasif. 

BEAST juga akan ditemani dengan sebuah puisi oleh Dwinanda Agung Kristianto dan karya gambar Aziz Amri. 



//ENGLISH

Here we go round the mulberry bush
The mulberry bush
The mulberry bush
Here we go round the mulberry bush
So early in the morning

Developing the narrative of death, BEAST hypothesizes on the potential sublime landscape before one's last breath.  

Death is considerably unusual in Kelvin Atmadibrata's relatively cheerful subjects until quite recently when it was initially developed for a residency in Tokyo with Tokyo Wonder Site (now Tokyo Arts and Space). The chronicle lives on into its second chapter- or to be precise a detour of its first with an attempt to progress forward- successfully or otherwise by investigating an imagined rendezvous between life and death themselves. 

The performance involves a masculine figure inspired by CLAMP's 1999 apocalyptic manga, X, in particular the human-loathing character Satsuki Yatoji. He is passive, moves only faintly and crouches like a frightened child. With a helmet covering his identity, audience might encounter a familiar photograph- a cityscape of a trading district in north Jakarta.  

Near him is a modular sculpture arranged from thirteen black paper-crafted monoliths and an equally familiar piece of paper collage, all reconstructed after the ones presented for the residency and subsequently an exhibition in Tokyo. As a site-responsive work, a gleam of orange-hued light escapes hauntingly from the gallery's back door, suggesting an adventure to come. 

Audiences are directly welcomed by a diptych of Rothko-esque print installed in lightboxes titled This is the way the world ends. Not with a bang, but a---,  is an unfinished, halted and paused reading of TS Eliot's 1925 poem, The Hollow Men. The images themselves are extracted from a scene from Jeffrey Bell's Agents of S.H.I.E.L.D episode which aptly titled World's End. 

BEAST works towards transforming Sepersepuluh's gallery space into an RPG video game-inspired setting. Relatively colossal landscape, an NPC as well as background music are designed to construct an image of Styx. It celebrates life-changing (or ending) journeys through a romanticized, blatantly aggressive (or subtly diffident) installation. 

BEAST will also feature a poem by Dwinanda Agung Kristianto and a drawing by Aziz Amri. 



 
//  CURRICULUM VITAE
//  ARTWORK
 //  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 
 
 
 

dokumentasi foto dan video oleh Aziz Amri
photo and video documentation by Aziz Amri