// BEAST

KELVIN ATMADIBRATA | JAKARTA

13-15 JULI 2018 


Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia...
Kejadian 1:27

Mengembangkan narasi kematian yang sudah pernah diolah sebelumnya, BEAST mengunjungi kembali kacau-balaunya sebuah penciptaan. 


Mulanya, karya ini dikembangkan untuk program residensi di Tokyo bersama Tokyo Wonder Site (yang sekarang disebut Tokyo Arts and Space). Memori tersebut dipresentasikan dalam babak kedua, atau lebih tepatnya, dihidupkan kembali melalui proses memutar balik sebagai sebuah upaya melanjutkan hidup. Walaupun pada akhirnya upaya tersebut berhasil, maupun tidak. 


Karya performens ini melibatkan sebuah tubuh maskulin yang terinspirasi dari karya manga tahun 1999 oleh CLAMP yang berjudul X. Komik tersebut menceritakan sebuah kejadian kiamat dan si performer merupakan wujud hidup yang telah disesuaikan tentunya dari seorang karakter bernama Satsuki Yatoji yang sangat membenci manusia. Si performer merupakan tubuh pasif, bergerak sangat sedikit dan merundukkan badan seperti seorang anak kecil yang ketakutan. Dia didampingi sebuah instalasi yang disusun dari tiga belas tugu kertas monolit. Disamping itu, 

//ENGLISH

God created man in His own image, in the image of God He created him....
Genesis 1:27


Developing the narrative of death, BEAST revisits the chaos of creation. 

Initially developed for a residency in Tokyo with Tokyo Wonder Site (now Tokyo Arts and Space), the chronicle lives on into its second chapter- or to be precise a detour of its first with an attempt to progress forward- successfully or otherwise. 


The performance involves a masculine figure inspired by CLAMP's 1999 apocalyptic manga, X, in particular the human-loathing character Satsuki Yatoji. He is passive, moves only faintly and crouches like a frightened child within an installation of thirteen black paper-crafted monoliths. Accompanying him are 結界, a series of paper sculptures, a big-scale photo collage and pencil drawings of power poles and substations, all reconstructed after the ones presented for the residency and subsequently an exhibition in Tokyo. 

Apart from the performance, BEAST also includes a new photograph piece of a familiar yet potentially unrecognized cityscape, one that the artist late-father might have enjoyed last before his death in 2015. 

BEAST is a romanticized detour of grief by dwelling into reincarnation, an anarchic possibility of life after death. 


 
//  CURRICULUM VITAE
//  ARTWORK
 //  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 
 
 
 

dokumentasi foto dan video oleh Aziz Amri
photo and video documentation by Aziz Amri