// DIAMOND DUST

KELVIN ATMADIBRATA | JAKARTA

13-15 July 2018 


Diamond Duist membekukan pemikiran, melumpuhkan rongga tenggorokan sehingga tidak ada lagi suara yang dikemukakan. 

Judul karya ini dipinjam dari seorang karakter yang sering muncul dari video game Square Enix bernama Shiva. Serangan sang mahkluk seringkali dinamakan Diamond Dust. Narasi karya ini jiuga diperluas kembali ke inspirasinya, yaitu Shiva, Sang Dewa Hindu. Salah satu ceritanya dalam peristiwa Samudra Manthan, Dia menelan sebuah racun demi melindungi alam semesta. Pengorbanan ini memang diharapkan dari sosok seorang Dewa, tetapi di saat yang bersamaan, dapat pula dielakkan. Hasilnya, leher Sang Dewa berwarna biru untuk selamanya.

Performens kali ini memperlihatkan tubuh seniman dengan matanya yang tertutup dan bibirnya yang ditempelkan ke es batu yang mencair. Sebuah objek buatan kertas dengan batu sintetik tertempelkan pada jakunnya, seperti sebuah parasit  tumbuh dari tubuhnya yang diam. Sekitarnya sunyi, hanya suara jepretan jari yang terkadang terdengar, hasil pancaran dari two-channel video instalasi. Ruangan performens terlihat pucat, dipenuhi dengan lipatan kertas yang dilekatkan dengan kilauan batu permata plastic.

Diamond Dust menjelajahi waktu yang beku, proses penuan yang terhambat serta romantisme keheningan. Karya ini juga mengsensor komunikasi dan membawa pengunjung ke alam ketiadaan. Tubuh menjadi sebuah pecahan kecil dari keutuhan karya. Sebuah wujud yang terbungkam, yang biasa saja dan yang terabaikan. 


//ENGLISH

Diamond Dust freezes the thought, paralyzing the throat that no words could ever escape it, not anymore at least. 

The title is borrowed from Square Enix's recurring character, Shiva whose special attack is almost always called Diamond Dust. The work expands its narrative to another form of Shiva, the Hindu God and his episode with Samudra Manthan, where he swallows a poison to protect the universe. The sacrificial act is expected from a God, but arguably, avoidable. As a result, His throat is unnecessarily blue.  

The performance presents the artist body with his eyes shut, placing melting ice cube close to his mouth, repeatedly. A paper sculpture with synthetic gem attached onto his adam's apple, almost like a parasite growing on his relatively still body. His surrounding is silent, only occasional fingers snapping sound projected from a two-channel video. The room is pale, covered with paper foldings attached with a glistening plastic diamonds. 

Diamond Dust explores time that is frozen, aging put on halt and the romance of stillness. It also censors communication and exclude the audience into a realm of absence. The body is simply a fraction of the installation, a silenced, mediocre and an ignored existence. 



 
//  CURRICULUM VITAE
//  ARTWORK
 //  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 
 
 
 

dokumentasi foto dan video oleh Aziz Amri
photo and video documentation by Aziz Amri