// HURYM

FJ KUNTING | JOGJAKARTA

18 MARET - 22 APRIL 2018


HURYM merupakan ideologi yang saya bangun. Istilah yang sampai saat ini saya yakini belum memiliki makna tersebut merupakan hasil dari studi saya tentang fluksus sejak beberapa tahun terakhir. Saya menciptakan istilah HURYM, menumbuhkannya, perlahan-lahan berusaha membuat istilah yang tidak berarti itu menjadi berarti.


Pada pameran kali ini, saya memunculkan HURYM melalui 2 karya eksperimental, project pertama Per-kali-an | Per kalian | Per-kali-an dan yang kedua Sit, Seat, Shit Keduanya merupakan seni peristiwa yang berbasis sosial eksperimen. Project Per-kali-an | Per kalian | Per-kali-an sudah pernah dipentaskan dalam Festival Equator, Biennale Jogja 2017. Pada project ini, saya merespons Kali Code. Menggunakan metode orang menambang emas, saya mencoba membuat sebuah peristiwa yang terbilang cukup sarkas. Saya membenturkan realitas visual di sungai dengan pikiran orang-orang yang melihat. Sementara itu di luar visual yang bisa dilihat langsung oleh orang yang berada di sekitar lokasi kejadian, media sosial juga punya peran besar dalam membentuk pikiran masyarakat. Di sana, khususnya di grup facebook Info Cegatan Jogja peristiwa ini riuh dibicarakan, segala opini publik keluar, mulai dari komentar ringan yang mengundang senyuman, permintaan kepada universitas atau kampus untuk mengecek kandungan pasir di Kali Code, hingga kegelisahan nyata akan ekosistem Kali Code jika unggahan semacam ini keluar dan terus jadi bahasan.

Kebanyakan dari mereka, baik orang yang melihat langsung maupun yang termediasi media sosial menganggap bahwa saya menambang emas di Code. Hal tersebut tentu tidak bisa disalahkan karena saya memang memang menggunakan metode orang menambang emas. Namun jika ditanya secara langsung, saya tidak pernah menjawab bahwa saya menambang emas. Saya hanya berkata bahwa saya sedang ngadem, bermain air, dan lain sebagainya. Tujuan besar saya tentu saja agar orang kembali menengok kali dan memperhatikan ekosistemnya, namun tanpa terlebih dulu menimbulkan kegelisahan saya khawatir isu tersebut hanya akan hilang seiring hilangnya kegaduhan media sosial.

Sementara pada projek kedua, Sit, Seat, Shit saya membuat kejadian yang direpetisi setiap hari. Saya berjalan kaki.Kursi yang salah satu kakinya saya potong saya letakkan di atas kepala sementara tangan kiri saya menyeret kotak kayu berisi batu. Rute perjalanan yang saya lewati setiap hari juga sama, di Jogja: Jalan Monjali - Jalan AM Sangaji - Jalan Mangkubumi (Margo Utomo) - Jalan Malioboro - Jalan Ahmad Dahlan - Jalan Suryowijayan - Jalan MT Haryono- Jalan Brigjen Katamso - Jalan Ahmad Dahlan. Jika ditotal, setiap harinya saya melakukan perjalanan 13 Km dengan durasi kurang lebih 4 jam. Di sela-sela perjalanan itu, saat lelah, saya berbaring miring. Kepala saya letakkan di bawah kursi yang kakinya telah saya potong dan batu saya letakkan di atas dudukan kursi.

Visual tersebut merupakan tafsiran saya atas konsep subyektivitas X obyektivitas. Bagaimana subyek (dalam hal ini manusia, penduduk suatu negara) menjadi obyek. Bagaimana sekian ribu kepala penduduk menjadi penyempurna satu kursi yang diduduki oleh pihak yang mewakili penduduk. Konsep yang cenderung politis ini saya bawa ke jalan, saya pertemukan dengan subyek sekaligus obyek itu sendiri. Banyak tafsiran dan pertanyaan yang muncul, walau masih lebih banyak lagi yang menyangka saya gila dan kurang kerjaan. Melalui respons masyarakat yang menafsir saya lewat mata mereka, saya melakukan hal yang sama, menafsir mereka dari sudut pandang saya.


//ENGLISH

HURYM is a self-constructed ideology. A personal term yet to carry any meanings but nonetheless, a result of diligence towards Fluxus. HURYM is thus born, grown and slowly but surely transformed semantically.


In this exhibition, I deliver HURYM through two experimental projects, Per-kali-an | Per kalian | Per-kali-an and Sit, Seat, Shit. Both are happenings in nature and experiment on the social. The former responds Code River and was presented as part of Festival Equator, Biennale Jogja in 2017. I created a series of sarcastic situations that depict gold mining processes in the river. A narrative was created due to its repetitiveness as a result of visual reality experienced by the public- mostly the locals around the site. The work- or documentation of the work expands beyond the presence to social media which is proven to be as effective as the prior. A Facebook group called Cegatan Jogja was actively discussing the action, questioning its validity and resulting in economical wonder. The discussion was intense, started from unserious comments to the possibility of involving academics and archeologists. Positively, it built a very much real awareness towards the ecosystem of Code River.

Many of the keyboard participants and on-site commentators (though they were still mediated through what was online), believed that I was mining gold in the river. It was inevitable, in fact it was intentional. However during direct confrontations, I denied such allegations. I simply replied that I was ngadem, or taking a break. My main intention was surely to build awareness, environmental nonetheless of the river. I was concerned towards the depleting ecosystem of the water source hence initiating an urban legend might be a possible solution. People in general enjoy narratives, furthermore those that are supernatural in nature and I hope that the series of happening was successful instead of relying on online social movements which are generally very short-lived.

My second project took a rather sculptural form but still maintain its daily repetitive nature. The work started with me walking in the morning, carrying a three-legged wooden chair and dragging a piece of rock on a wooden wheel. The route was familiar, Monjali Street to AM Sangaji, Mangkubumi (Margo Utomo), Malioboro, Ahmad Dalhlan, Suryowijayan to MT Haryono, Brigjen Katamso and a detour back to Ahmad Dahlan. It was in approximate a total of 13 kilometers throughout a duration of four hours. Within those repeated trip, at times when fatigue took over the physique, I laid by one side. My head becomes the fourth plinth that support the chair. The stone rested idly on it, creating an image of weight.

Such image is my interpretation towards what is subjectivity and objectivity. I am peculiar towards the construction of a subject and how it evolves into an object. In this manner of work, a subject might be a collective noun of human beings, citizens of a country. Hence I enquire into how thousands of individuals become a singular support of a chair that is symbolically referring to the higher power. It is without a doubt, political and by bringing it to the street, I brought the subject to meet the object directly. Various interpretations and efforts to create meanings out of such image surfaced. Expectedly as well, there were many who believed I was insane. But through this direct responses and observations my audience gave me that I respond and observe them back. This time through my own sight and perspective.



 

 
// CURRICULUM VITAE
// ARTWORK
//  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


dokumentasi foto dan video oleh Aziz Amri
photo and video documentation by Aziz Amri