// DARI LANGIT UNTUK LANGIT

DWINANDA AGUNG KRISTIANTO | CIBUBUR

29 JUNI - 1 JULI 2018 


Performance ini merupakan sebuah pembacaan “puisi racauan”. Rangkaian kata-kata yang seolah diambil dari udara atau dari langit untuk dipresentasikan-disuarakan disini, ruang waktu ini. Kata-kata yang ditemukan dan diambil dari “tempat-tempat” yang terpencil dalam hati pengidap schizophrenia di kesehariannya atau di kala sedang mengalami periode anxietas. Kata-kata yang tidak beraba-aba soal identitas kemunculannya, kata-kata yang “ada” dan “hadir” seolah begitu saja tanpa beban-beban makna dan pemaknaan yang harus dikandungnya. Untaian kata yang bisa saja hanyalah menyajikan susunan huruf-huruf tertentu; pra-makna.

Kejatuhannya dari langit (kata-kata itu) akan disambut oleh tanah, dan kemudian tanah meresponnya dengan menumbuhkan benih-benih rumput hingga bunga. Kata-kata itu seperti bulir-bulir tetesan air hujan yang jatuh lalu diserap oleh tanah (manusia), untuk kemudian di-uap-kan atau di-gas-kan kembali zat air itu menguap lagi ke langit. Sebuah hubungan-dialog alamiah antara langit dan tanah. Sebuah komunikasi yang menandakan bergerak dan berjalannya kehidupan di Bumi ini. Pada diri manusia bahasa komunikasi itu berupa huruf-huruf, kata-kata, dan rupa bentuk yang diproduksinya dalam situasi batin dan lingkungan yang dialaminya.

Sifat dari racauan (disini) adalah sebagian besar kata-kata yang terlahirkan / dilahirkan tidak total direncanakan untuk membangun suatu struktur makna yang utuh dan solid, bisa terjadi kekurangan, saling lepas-terlepas hingga pecah-pecah. Sehingga sepertinya tidak terbaca-terpahami sebuah arti besar yang bersifat tunggal dan mutlak. Pembacaan teks-teks ini bisa dibaca sebagai “gerak jatuh bebas” atau “gerak terbang melayang” atau keduanya yang berlangsung silih-berganti atau bersamaan. Ini sebuah kesadaran dan perenungan terhadap datangnya / asal mula / latar belakang sebuah kata-kata menjadi ada-hadir-dipilih-lalu teraba untuk dirangkai.

Dari Langit Untuk Langit merupakan sajian rangkaian kata-kata yang selama ini hanya berserakan-berantakan di studio, Cibubur. Kata-kata yang dikerjakan didalam ruang kamar, toilet, dalam perjalanan (mobil pribadi / angkutan umum), saat menunggu di tempat parkir, pasar, bank, bioskop dan dalam suasana gerak aktifitas-aktifitas keseharian lainnya. Kata-kata ini sebelum dipindahkan ke kertas, sering saya melakukan pencatatannya di “note / memo” handphone yang saya miliki. Setiap kata-kata yang muncul di dalam kepala bila itu “terasa penting” akan saya catat dahulu dan kemudian dirangkai di lain waktu. Proses ini bisa terjadi dengan cepat hingga sangat lama. Segala sesuatu yang nampak sebagai “hasil akhir” sejatinya “tertata” mengalir begitu saja mengikuti perasaan, kondisi fisik, kondisi psikis hingga kondisi cuaca saat penulisannya. Gerak menulis-mencatat berupa coretan-coretan ini di setiap waktu yang memungkinkan juga merupakan terapi psikologis bagi kesehatan jiwa yang memang cukup dianjurkan (secara psikiatri / psikologi) untuk dilakukan oleh Orang Dengan Schizophrenia (ODS). Isi dari teks-teks ini ada yang bersifat umum dan personal…namun dalam performance ini, teks-teks tersebut sudah menjadi puisi (atau mungkin pra-puisi) yang bisa disimak atau mungkin juga tidak disimak oleh siapa saja selama pembacaannya dilakukan.

Performance ini sebuah ikhtiar kecil untuk kembali pada kata-kata…kembali ber-teks.



//ENGLISH

This performance reads a poem of delirium. Strings of words as if taken from the air- the sky itself to be presented, to be spoken here, in this very spatial time. The words are crocheted from the deepest of this Schizophrenia patient’s heart. His commonplace, his everydays, his anxieties. Words that give no warning of their constructions, words that are simply present without any baggages towards simplified meanings. Strings of alphabets, pre-meaning.

The words fall from the sky, welcomed by the earth. They land on soils, turn into seedlings and grow. Words are like raindrops that shower the earth, are absorbed by the fleshes, evaporate into thin air, returning to their origin. A sublime connection- a natural conversation between the sky and the earth. A dialogue that proves of life. For humankind, communication is not very distant from alphabets, words and images produced from spiritual conflicts.

Chaos is hence portrayed as words that are produced, intentionally or otherwise to erect a constructive foundation towards meanings. Meanings are potentially wholesome, integrated or even broken apart. They become less understandable, are moving away from distinct and absolute interpretations. Reading this text can be seen as a holistic leap of faith, or a much more recreational skydiving, or even both, simultaneously or by turns. It sensitively evolves towards a process of understanding the origin of words.

Dari Langit Untuk Langit is a serving of words, compiled as a collection from a studio mess in Cibubur. Words that appear in bed, toilet, traffic, while waiting, daydreaming, watching cinemas, queueing in banks and during other common schedules. These words are often documented on paper but not before they are saved instantly on handphone’s memos. For what I consider important, they are cherished in this small technology that I carry with me, to be revisited, to be remembered and to be processed in due future. This happens in an instant but at times, take years. What might have initially seemed as a concluded end, evolved over time, adapting to the changes in my mental and physical state, and also the surroundings around me. The intuitive recording of words is also a healthy practice for People Living with Schizophrenia (PLS). My texts are personal but also communal… but in this performance, they have become poems (or even pre-poetry) that can be listened or ignored by anyone.

Dari Langit Untuk Langit is an inspiration to return to words.



 
//  CURRICULUM VITAE
//  ARTWORK
 //  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 
 
 
 

dokumentasi foto dan video oleh Aziz Amri
photo and video documentation by Aziz Amri