// LAUREL WREATH  

AZIZ AMRI | JAKARTA

7 JANUARI - 10 FEBUARI 2018


Di saat seseorang memiliki kekuasaan, keserakahan menjadi teman mereka.

Manusia pada dasarnya adalah baik dan suci sampai lingkungan sekitar merubah mereka.

Laurel Wreath merupakan sebuah simbol kemenangan dan kehormatan. Ketika seseorang memperolehnya, dia akan mulai dihormati orang lain, tetapi apakah orang tersebut dapat menangani kenikmatan tersebut dengan bijak?

Katanya, kekuatan besar didampingi dengan tanggung jawab yang sama muthlaknya. Apakah betul kalua manusia dapat dipertangung-jawabkan atas tingkah dan perbuatan mereka?

Saya meyakini bahwa ketika kita masih memiliki hasrat dengan hal duniawi, kita tidak akan bisa menduduki tahta. Sebuah observasi yang sederhana yaitu: prioritas.

Kita semua baik. Hanya saja, ada beberapa kelompok orang yang kita prioritaskan.

Alasannya yang sering kita dengar:

Untuk masa depan yang cerah.

Untuk umat manusia.

Untuk generasi mendatang.

Untuk pengetahuan.

Semua ini berkumandang, seperti bola yang melambung dan tidak akan ada yang tau kemana ia akan berpental.


Babak 1 : Kelahiran

Kita semua lahior di dunia tanpa pakaian dan bersinar suci. Ini menunjukkan bahwa semua manusia sama rata, tanpa status social yang mendefinisikan mereka. Kesucian didampingi dengan kebebasan dari pengetahuan ataa dunia dan naluri memandu tubuh untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Naluri pertama ialah menangis.

Tangisan seorang bayi yang baru lahir adalah tanda penting bahwa dia hidup. Akan tetapi di saat dimana sang insan tidak menangis, orang di sekitarnya akan menanggapi secara kasar: memukul si mungil, memaksanya untuk menangis. Interaksi ini merupakan pengetahuan pertama untuk si bayi. Sebuah pengetahuan duniawi yang akan mengotori kemurnian seperti polusi.


Babak 2 : Interaksi

Tubuh kita berinteraksi dengan lingkungan melalui sentuhan, perasaan, penglihatan, pengecapan dan berbagai cara komunikasi lainnya. Semakin banyak kita berinteraksi, semakin dekat pula kita dengan kehidupan.

Akan tetapi, proses berinteraksi inilah yang akan membentuk siapa diri kita. Kebaikan, kejahatan, kemurnian dan kebusukan di dalam diri kita. Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan sifat-soifat tersebut? Siapa yang mempunya otoritas untuk menentukannya?

Kita? Atau mereka?

Pada akhirnya, apakah label-label tersebut penting?

Apakah membunuh itu salah? Kenapa kita peduli!? Siapa yang peduli!? Pada akhirnya, kita semua sendirian.

Setiap manusia yang dihidup di dunia ini memiliki hati yang nurani. Apa benar?

Jika iya, kenapa mereka masih saja bernafas dan mencemar dunia?

Menurut saya, masalahnya adalah kebutuhan mereka. Manusia adalah mahluk egois. Mereka memberi lalu meminta imbalan. Mereka berkata bahwa bersedekah memberikan kepuasan batin, tetapi kepuasan tersebut adalah sebuah angkara. Bagaimana mungkin ini dapat ditinjau sebagai tanpa pamrih?

Seseorang lewat dan yang lain pergi. Emosi adalah penyakit. Kerakusan, kenafsuan, ketamakkan, keangkuhan, keputusasaan, kemurkaan, kesombongan dan kemalasan merupakan kaki tangannya. Tidak ada yang namanya baik.


Babak 3 : Evolusi

Di saat seseorang memiliki kekuasaan, keserakahan menjadi teman mereka. Kehausan akan perhatian dan kelaparan akan perubahan merubah kita dari sebuah monster menjadi iblis. Ini semua salah permulaan. Setelah kita memulai, tidak ada akhirnya.

Seperti halnya proses reproduksi. Dua insan menjelma menjadi banyak. Permulaan perang, permulaan sebuah penghalang tembus pandang yang disebut budaya, permulaan dimana manusia menyadari warna, permulaan langit abu-abu dan permulaan Laurel Wreath.

Ini bukan masalah besar melainkan manusia menjadi manusia. Masalah hanya muncul ketika kita berimajinasikan mereka. Tenang saja.

Berpikir?

Apakah otak kita membuat kita sedemikian? Bagaimana jika kita menguasai otak kita untuk berhenti berpikir? Bukankah otak hanya sekedar organ jasmani? Jiwa kita ialah masalahnya. Sebuah panas membara yang perlu dibekukan didalam diri.

Pada akhirnya, bukankah kematian merupakan jalan satu-satunya? Ironisnya, kematian juga sesuatu yang sangat tidak kita ketahui.

Padahal itu merupakan sebuah solusi tetapi kita sudah jauh dari pemulaan. Perhentian tidaklah mungkin. Walaupun seseorang mati, yang lain akan tetap hidup. Ini merupakan sebuah permainan kehidupan.

Sebuah permainan yang harus dimainkan.

Sebuah permainan yang diabaikan.

Sebuah permainan yang diikuti.

Sebuah permainan di dalam sebuah kotak.

Sebuah permainan memutuskan menjadi seorang pemberontak. Walaupun para pemberontak pun tidak terlepas dari perlawanan.

Bukankah ini sebuah situasi yang sangat memuramkan.


Babak 4 : Siklus

Mari kita kembali lagi ke permulaan. Sebuah tahta selalu duduk diatas sebuah kepala. Ketika satu jatuh, akan ada yang bangkit. Tahta tersebut akan melalui proses regenerasi. Manusia akan mulai bertanya kembali. Perang akan dimulai kembali. Kaki tangan si penguasa akan bertumbuh dan mencemarkan insan-insan yang baru dalam proses evolusi.

Yang murni akan dilahirkan lagi.

Mereka akan berinteraksi lagi.

Mereka akan berevolusi lagi.

Ini merupakan sebuah putaran, sebuah roda, sebuah siklus.

Ini adalah kehidupan.



//ENGLISH

When someone possesses power, greed is their new friend.

All humans are basically good and pure until their environment began to shape them up.

Laurel Wreath is a symbol of victory and honor. Once someone gains it, people start to respect him/her, but is that particular person would be able to handle the sensuous delight?

They say with great power comes great responsibility. Is it true that humans particularly can be responsible for all their actions?

I somehow believe that once you still desire worldly pleasures, you are incapable of possessing power. It is quite a simple observation really,

priority.

All of us are kind. It is just a certain group of people that we prioritize ourselves to.

Purposes we hear often are:

For the better future

For human kind

For our next generations

For the benefit of education.

All of these have repercussions, like a bouncing ball and the uncertainty of the directions it bounces to.


Act 1 : The Hatch

We are all born naked and pure. This represents all humans are equal with no social class to begin with. The purity comes along with the innocence of having no knowledge of the world and instinct guides the body to interact with the environment. The first is crying.

The cry of a newborn is essential as it is his/her body signaling life. But when the cry is missing, his/her surrounding will respond in a rather violent manner: to hit the newborn, forcing his/her cries out loud. This action is the first knowledge a newborn gets. The knowledge of the world starts to pollute the pure.


Act 2 : The Interaction  

Our bodies interact with the surroundings by touching, feeling, seeing, tasting and myriad other methods of communication. The more we interact, the more we are bonded to life itself.

However, interactions shape who we are. The goodness, wickedness, innocence and corruption in us. But what are those qualities exactly? Who has the authority, and audacity to adjust signifiers upon them?

Us? Or them?

Regardless, are labels important at all?

Is murder a vice? Why do we care!? Who cares!? We are all alone after all.

Humans living in this world are spiritually beautiful. Or are they?

If they in fact are, why are they still breathing and causing destructions upon the world?

I figured the problems are needs. Humans are essentially selfish. They give conditionally, expecting things in return. They might admit that it is truly satisfying to give wholeheartedly but satisfaction is an egoistic agenda. How can this exchange even be considered genuine?

One passes by and another fades. Emotions are diseases. Gluttony, lust, avarice, pride, despair, wrath, vainglory, and sloth are its minions. There is no such thing as good.


Act 3 : The Evolution

Once you gain power, greed is the new best friend. The thirsts of attention and hunger of change make a monster turns into a demon in us The beginning is the culprit. Once you start, there is no end.

Just like the process of reproduction. Two beautiful souls transform themselves into empires. The beginning of war, the beginning of big translucent barriers called culture, the beginning of humans to realize colors, the beginning of grey sky, and the beginning of Laurel wreath.

No, this is not a big problem. It is simply humans being humans. Problems will only be one when we imagine it as such. Chill.

Think?

Does the brain shape us this way? What if we control the brain to stop thinking? Brain is but an organ. The soul however, is the snag. The hot heat that needs to be frozen inside the vessel.

Ultimately, is not death the only solution? Ironically, death is also the only thing that we are far from being familiar with.

It is in fact a solution, but we are already beyond the beginning. Stopping it is futile. Even if one dies, the rest persists on living. It is nothing but a game of life.

A game to be played.

A game of ignorance.

A game to follow.

A game to be inside the box.

A game of being a rebel by choice. Even rebels are not independent of resistance.

It is depressingly complicated.


Act 4 : The Cycle

Let us return to the beginning. The laurel wreath always has a head to throne on. One falls another one rises. The laurel wreath regenerates. People then start questioning again. War will break out again. Minions will grow and spread their corrosion to individuals due to the evolutions.

It will hatch the innocent ones again.

They will interact again.

They will evolve, again.

This is a loop, this is a wheel, this is a cycle.

This is life in general.



 

 
// CURRICULUM VITAE
// ARTWORK
//  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


dokumentasi foto dan video oleh Kelvin Atmadibrata
photo and video documentation by Kelvin Atmadibrata