MENCERNA KESALAHAN

Teks Pendamping “MSITAKE” Karya Rummana Yamanie

oleh Dwinanda Agung Kristianto


“Sepandai-pandainya tupai melompat pasti ada jatuhnya juga.“


Kesalahan dan kebenaran merupakan dua kutub “keniscayaan” yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Bahkan kesalahan dan kebenaran merupakan satu paket zat hidup yang menampakan wujud eksistensi manusiawi dari kedirian sosok mahluk bernama manusia. Dua sisi aktif mata uang yang saling mengkonstruksi kehidupan. Kebenaran ada karena adanya kesalahan, dan kesalahan ada karena adanya kebenaran. Keduanya merupakan mekanisme pembelajaran untuk menggerakan dan membangun isi kehidupan yang tidak bisa diabaikan-terabaikan. Kesalahan demi kesalahan membawa diri menuju pengetahuan terpencil menjadi terkuak dan terbit penampakan benarnya. Kebenaran pada dasarnya sering dijumpai melalui proses penggalian (eksplorasi) terhadap luasnya ladang garapan yang mengandung potensi-potensi kesalahan. Terkadang yang selalu nampak hadir di awal adalah kesalahan-kesalahan lalu kemudian kebenaran menyusulnya dengan frekuensi yang lebih kecil, rendah, sedikit dan lemah.

Sekilas melihat pada sosok Sisiphus, kira-kira begitulah “ilustrasi” oleh Albert Camus yang menyajikan gambaran tentang kesalahan-kesalahan dan kejatuhan-kejatuhan yang mau tidak mau dan suka atau tidak suka teralami di perjalanan hidup manusia. Begitu beratnya mendorong batu itu untuk mencapai puncak gunung (keberhasilan) dan selama proses itu pula Sisiphus tertekan oleh beban berat batu yang cenderung menekan-mendorong-dan menjatuhkannya ke bawah kembali. Tidak ada yang mudah untuk mencapai puncak keberhasilan dan kebenaran. Dalam perjalanan itu seolah-olah terhampar berbagai macam perlawanan dari zat-zat kesalahan itu sendiri yang tidak ingin puncak itu gampang diraih, piala itu cepat diraih, dan kebenaran itu memberikan keutuhan dirinya.

Perjalanan dengan sajian kesalahan-kesalahan ini memberikan dampak psikologis dalam diri manusia, ketika bertubi-tubi kesalahan-kesalahan itu mengoyak energi psikis dan fisik yang tersimpan dalam diri. Dampak psikologis yang menggedor pikiran dan menggamangkan mentalitas. Rangkaian kesalahan berurutan yang tidak membawa diri pada utuhnya kebenaran mengandung potensi destruktif yang mengganggu kesabaran yang tertanam sejak dilahirkan. Kesabaran yang potensinya tak terbatas dapat dengan begitu singkat runtuh oleh gempuran zat-zat kesalahan yang tidak memberikan celah sedikitpun untuk terkuaknya kebenaran-keberhasilan. Frustrasi dan kesia-siaan menggoda benak untuk mengambil alih ruang eksistensial dalam sistem pikiran. Kelelahan fisik dan psikis mengacaukan rasionalitas yang mengakibatkan terjunnya diri ke dalam area psikotik / neurotik menjauhi kewarasan, sebelum menenggelamkan dirinya dalam trauma.

Manusia yang akhirnya berani lepas dan keluar dari tekanan-tekanan kesalahan sebagai kesalahan akan menjadi sosok yang tajam dan memiliki insting mendalam kemana dirinya akan dibawa pada kebenaran melalui rintisan jalan kesalahan-kesalahan itu. Kesalahan-kesalahan yang ada dan hadir merupakan ruang dan waktu latihan yang tidak dapat digantikan oleh manusia yang lain. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dan pencapaian kebenaran pada akhirnya akan menunjukan bahwa manusia mengetahui tentang kebenaran oleh karena sebelumnya mengetahui “apa yang salah itu”. Ukuran-ukuran kebenaran dapat ditemukan dalam proses panjang selama rangkaian kesalahan itu teralami dan teramati lalu diperbaiki / dibenarkan.

Kesalahan bukanlah tabu dan aib yang bisa dilenyapkan atau dibuat tidak ada selamanya. Sebuah penemuan-penemuan penting berawal dari puluhan hingga ratusan kesalahan yang harus dialami-dijalani. Kesalahan-kesalahan itu terkadang membawa diri pada arah yang salah (nyasar) menuju gerak mengulang kembali pada awal / asal mula. Namun dari kesalahan dapat ditelusuri jejak-jejak harapan yang berpotensi membawa pada kebenaran nantinya. Beberapa orang ada yang mempercayai bahwa bahan bakar untuk memproduksi kebenaran sejati adalah kesalahan-kesalahan yang disikapi secara positif. Sebuah kesempurnaan dihidupkan melalui pemahaman dan pendalaman terhadap kesalahan-kesalahan yang ada dan kemudian diperbaiki-diselesaikan. Kebenaran dan kesalahan memiliki durasinya masing-masing. Tidak selamanya setiap kebenaran adalah total benar dan tidak selamanya pula setiap kesalahan adalah total salah.

Di era deras cepatnya persilangan arus informasi dengan berbagai simpang-siur persepsi yang bisa dikonstruksi dalam pikiran manusia “yang benar” bisa dianggap / dipandang salah dan “yang salah” bisa dianggap / dipandang benar. Ukuran dan kriteria benar-salah menjadi semakin bias. Kebenaran dan kesalahan cenderung melebur menjadi satu zat yang sulit untuk diidentifikasikan lagi kadar kebenaran dan kesalahannya, telah menjadi area abu-abu.

Proses eksistensi benar, salah dan abu-abu ini dapat disimak dari seorang pianis yang bergumul menenggelamkan dirinya dalam obsesi untuk menaklukan sebuah komposisi musik (lagu) menuju kesempurnaan (kebenaran permainan). Kesempurnaan itu sendiri nantinya merupakan konstelasi zat “ salah + abu-abu + benar “ yang tidak terpisahkan selama proses perjalanan produksinya. Latihan demi latihan dilakukan untuk memahat mentahnya bahan baku (kesalahan-kesalahan) menjadi nampak keindahan yang membawanya kearah kesempurnaan-kebenaran teknis permainan. Proses latihan itu sendiri sudah merupakan material-material konkrit perwujudan karya seni; seni mengelola kesabaran, seni mengelola emosi, seni teknis jari-jemari, seni pembacaan not balok / angka, seni mengelola kesadaran dan konsentrasi, seni menajamkan sensitifitas pendengaran nada-nada dan seni menghayati-menghidupi-menjiwai sebuah komposisi musik yang dimainkan.

Durasi latihan bisa jadi lebih panjang daripada durasi komposisi musik itu sendiri. Pianis mengalami proses mencerna langkah demi langkah kualitas permainan yang dilakukannya sampai mencapai hasil sempurna terbaik sesuai dengan persepsi tujuan akhir yang ingin dicapainya. Repetisi berdurasi panjang yang dilakukannya membawa dirinya, jiwanya dan instingnya pada “keterbiasaan” hingga “hafalan” bentuk permainannya dengan potensi disusul zat-zat improvisasi pada tahapan-tahapan selanjutnya dalam perkembangannya.***


“Freedom is not worth having if it does not include the freedom to make mistakes.“
Mahatma Gandhi

AN ERRED JOURNEY

Supplementary Text for “MSITAKE”- first solo exhibition by Rummana Yamanie

by Dwinanda Agung Kristianto
translated by Kelvin Atmadibrata

“Pride goes before a fall.“


Mistakes and truths are two inevitable end of spectrums. They are a pair of essentials that proves a human’s existence- his physique and mental. They are two sides of a coin, simultaneously construct life. Truths exist because of mistakes and vice versa. They are a learning mechanism that fuel the machinery of living beings. One mistake over another leads oneself towards a knowledge buried deep inside him like a flashlight leading through the dark. Truths often dug similarly, explored endlessly among a farm of knowledge grown from the seeds of failures. At times, mistakes are more apparent but truths will only follow suit.

Albert Camus through his illustration of Sisiphus presents a looping process of mistakes that is inevitable as one progresses in life. It is truly a heavy task, pushing a goliath rock, aiming for the top. Gravity becomes the worst enemy, pulling one down, halting each attempts towards success. Experiencing the sublime is suggested as a gruesome task. However, a journey that is easily abandoned and mistakes that are way too overpowering can only mean that the rewards will eventually worth it.

A mistakes-filled road is psychologically impactful that errors tend to deconstruct the body and its psyche. Mentally it is challenging as oversights are ironically upfront. A series of miscalculations are without a doubt destructive. Patience is compromised. Frustration and hopelessness becomes a forbidden fruit as it lures the mind out of existence. Physique and psychic slowly wrecks rationality, leading the flesh into shutdown and submerged into the depth of trauma.

Those armed with bravery will eventually triumph. Those courageous will free themselves from such pressures. Mistakes become shredded skins, left behind as a form of valuable memories and experiences. Mistakes exists as a time accompanied by theoretically, space for them to train.

These are personal and irreplaceable with others. These sprout from their unique individual journey, forming their own versions of truths, independent from social judgements. Truths are after all immeasurable other than through a series of inflicted, repairable errors.

Mistakes are not invaluable, really. Most groundbreaking innovations are nothing without a series of mistakes. They are a compass leading towards successes but the maps shown are more than often never smooth. They are rocky, needs reparations and attentions, needs mending. They will lead into a dead-end that requires a smooth u-turn, provide countless opportunities that fuels the journey into its final destination. A terminal where one stops as he is filled with overflowing knowledge, just enough for him to succeed in life. Mistakes take their time, but so does its counterpart, the truths. They are never exclusive but are always dependent to each other. A mistake is never invaluable just like a success is never to be taken for granted.

In today’s exceedingly swift exchanges of information, versions of truths become more and more questionable. Accuracy struggles itself with deceptions and mistakes favor themselves otherwise. Qualifications are measured through bias that both mistakes and truths dwell into an unrecognizable identity within a spectrum of grey-hued landscapes. Hence a pianist, obsessed with a newly found score, one that she finds challenging. She dwells into perfections, sharpens her attention undividedly towards the dancing notes, melodiously imagined in her soul. She moves her fingers, again and again towards a productive learning practice. The exercise progresses itself as a work, an art work worthy to be shared and presented. It is inherently performative that projects patience, juggles of emotions, techniques, presence, concentrations and ultimately, sensitivity.

Duration is vital. Duration stretches itself way more complex than the scores in front of her. The pianist experiences her infant steps towards adulthood, towards perfection, towards her personalized picture of success. She experiences repetitions, self-inflicts herself with mistakes so that she reaches a destination- one that is arguably, only for her to decide.


“Freedom is not worth having if it does not include the freedom to make mistakes.“
Mahatma Gandhi