HIDUP DALAM MERAH

Teks KURATORIAL “RED 55” Karya RR. METTA P. WARDHANI

oleh Dwinanda Agung Kristianto


Merah. Sebuah warna yang penting dalam hampir semua medan olah dan gubahan visual. Salah satu warna dasar yang tidak bisa lagi dipecah-dijabarkan menjadi definisi-definisi tertentu, bersama dengan biru, kuning, hitam dan putih. Merah sebagai elemen visual merupakan pilihan warna yang sering digunakan karena sifat atau karakter penampakannya yang “eye catching”. Biasanya dipilih-dipakai untuk menyajikan “point of interest” bagi indera penglihatan dalam karya desain dan seni murni tertentu. Merah terasa begitu akrab melalui sistem cerapan kedua mata kita saat ini (kontemporer), karena sifat lumrah dan tak asing-nya yang sering kita jumpai dimanapun. Namun di sudut tertentu, merah menjadi cenderung tidak sedap, miris dan mencemaskan ketika warna itu merupakan representasi atau simbolisasi dari cairan darah manusia yang mengesankan “sakit, luka dan duka”.

Merah sebagai darah terbiasa digambarkan sebagai wujud dari rupa-rupa celaka yang mengarah pada kesan-kesan penderitaan, kebengisan hingga kesadisan yang berhubungan langsung dengan “kondisi tidak baik” organ-organ manusia. Merah pada hidung badut jelas sangat berbeda rasanya dengan merah pada luka goresan di lengan. Bahkan dua sensasi rasa bertolak belakang yang ada dipandangan kita ini sama sekali tidak bisa disamakan persepsi-persepsi yang muncul diantara keduanya; yang satu menggambarkan keceriaan-keriangan-kelucuan, humor/komedi dan yang lainnya menggambarkan situasi pemandangan yang tidak menyamankan perasaan.

Merah dalam Red 55 ini memberikan tawaran pembacaan lain yang bisa saja berujung pada situasi puitis dan romantis, terutama ketika hadirnya merah dalam pameran dan performance ini sejak dari awal merupakan untaian bahasa yang coba disajikan oleh Komet untuk menarasikan kembali pergumulan batin-nya yang “luka” ketika dua kali harus mengalami peristiwa miris yang cukup berdekatan waktunya, yaitu: bapaknya yang wafat karena tumor dan kemudian suaminya yang divonis harus menjalani cuci carah rutin seumur hidupnya. Dua peristiwa hidup yang menghadirkan “kelamnya merah” ini tidak disikapi oleh Komet dengan ratapan nestapa yang berlarut-larut, melainkan ditransformasikan zat luka itu menjadi rangkaian alur inspirasi bagi karya-karya seninya hingga saat ini. Energi luka-duka diubahnya menjadi gugahan di pilihan jalan seni-nya yang merupakan sebuah tawaran pemandangan tentang perjuangan untuk tetap tegak berdiri dan berusaha-bekerja keras untuk lepas dari keterpurukan hidup yang bisa saja melenakan.

Merah dalam Red 55 kiranya bisa lebih dibaca sebagai pancaran nilai keberanian dan kegigihan dalam menghadapi dan menjalani perihnya kehidupan dengan dasar cinta kasih dan kebersamaan, melanjutkan segala sesuatu harapan positif yang harus dilanjutkan. Sebentuk tanda yang menginformasikan bahwa menjauhkan diri dari keputusasaan. Mengadakan-membangun kembali kebahagiaan-kebahagiaan yang bukan khayalan. Memilih menafasi suka duka perjalanan hidup secara artistik dan puitis.

Ini pula yang merupakan perwujudan rasa syukurnya dalam menginjak usia 55 tahun dengan segala memori dan harapan untuk kedepannya. Sebuah sajian kilas balik dan sekaligus renungan untuk masa depan yang tak terhindarkan. Latar belakang situasi keluarganya ini tidak menghalangi atau menghambatnya untuk terus melahirkan karya-karya seni, secara khusus bermedium performance art. Baginya performance art merupakan ladang garapan untuk bisa mengekspresikan segala perasaannya dan menumpahkan keluh kesah akibat beban-beban fisik dan psikis yang harus ditanggungnya. Memindahkan zat-zat luka dan duka dalam dirinya pada bentuk-bentuk karya seni yang dilahirkannya. Mungkin ini semacam terapi psikologis ampuh melalui medium kesenian yang ternyata membuatnya sanggup untuk menerima semua peristiwa hidup yang datang, harus dialami dan dilaluinya. Seni (performance art) sebagai obat penawar bagi racun-racun rasa sakit durasi panjang yang sudah menjadi bagian hidup di kesehariannya. Mengembalikan merah pada “red cross”, kiranya membawa pesan yang bersifat universal, sebuah gerak membungkus kesan berdarah-darah harafiah menjadi nafas-nafas harapan yang menghidupi. ***

a

a

a

LIVING RED

CURATORIAL Text for “RED 55”- first solo exhibition by RR. METTA P. WARDHANI

by Dwinanda Agung Kristianto
translated by Kelvin Atmadibrata

Red. A color so crucial in almost every single visual representation. One of the three primary colors which is absolute on its own, just like its peers blue and yellow- and considerably, black and white. Red is a feast to the eye, a visual favourite due to what many believe as “eye-catching”. It is often chosen to present the image’s “point of interest” as it allures the visual. It is hence so very friendly to the human’s eyes (in particular contemporary eyes, if there are such thing) as it is inevitable, it is everywhere and anywhere, watching us while being watched in return. As a result, (and of course by individual’s taste), it has become distasteful, leaning towards disgust and discomfort during the times it overtly signifies the blood, the pain, the wound and the grief.

Red as a signifier of blood is also a common find but more than often, it is approached by danger and situations that suggest suffering, gore and the vices of human beings. Take the red slit on human skin that evokes a great sense of pain even one is very much not feeling the actual sting. Similarly, the red nose of a clown. Indeed the latter leans towards comedy but both, in one ways of another, works effectively in presenting a troubled landscape.

The crimson tint in Red 55 offers an alternative approach, one that potentially poetic and romantic. Komet has built a personal relationship with the color, traceable from her earliest work to communicate her spiritual struggle of having to experience not one but two family tragedies. The death of her late father and her husband diagnosis were both fuscous but they were not necessarily sorrowful for Komet. However, she transformed pain into a flow of energy that stimulates her creative practice. Her grief is a compass that escorts her through the creative voyage, filled with fresh landscapes that are without a doubt, personal. She paints her images through cochineal dye as her therapy not through sickness but life, the tiring and exhausting end of life that is soundtracked by lullabies.

The rufous in Red 55 is also approachable as a language of bravery and valor for Komet to face through her depicted life. It paints love and compassion and everything positive that could radiate from her presence. It was to remind her, and her audience to never give up and surrender. It was to help her building a new life that is not imaginary but motivated by a formulae of ups and downs, rights and lefts, forwards and backwards. With a red ink Komet pens her life prose.

Through this very personal exhibition, Komet is thankful of her 55 years-old life. She cherishes both good and bad memories as a series of flashbacks that encourages hoping for the future. Her familial back story is important but not entirely the main structure that holds her determination, at least not anymore. They were simply scripts of her performances that become a form of sharing opportunities towards personal healing. Pain is her medicine and performance is her nurse, her antidote. Like the red in “red cross”, Komet’s performances, her archives and documentations are universally relevant and familiar. She communicates through inspirational yet sacrificial scarlet-hued vocabularies that despite being bloody, is the main source of life. ***