// RED 55

RR. Metta P. wardhani
(komet radenroro) | bandung

12 AGUSTUS - 15 SEPTEMBER 2018 


Dalam pameran dan performance tunggal ini saya mencoba membuat napak tilas mengapa saya terjun ke performance art pada usia yang terbilang tidak muda, yaitu pada usia 48 tahun (saat itu tahun 2011) dengan karya performance art perdana berjudul “Pasar Kembang” di Galeri Barli.

Setelah menuntaskan studi Magister di Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2008, pada bulan Maret saya dihadapkan pada kenyataan bapak saya menghembuskan nafas terakhir setelah menderita tumor stadium tigadi tenggorokan dan dua minggu kemudian suami saya divonis harus menjalani terapi cuci darah seumur hidupnya. Karena kondisi ini sayapun mengawali peran sebagai semi-single parent. Perang batin yang muncul membawa saya menjelajah ke berbagai aktivitas seni dari pameran, membaca dan membuat puisi, teater hingga akhirnya ke medium performance art.

Di performance art saya menemukan kenyamanan mengeluarkan kegalauan hati, sekaligus berekspresi merespon situasi sosial sekitar. Saya menemukan lahan berkeluh kesah tentang suami, tanpa publik bosan dengan keluhan yang sama, karena dalam performance art publik bebas menafsirkan ekspresi saya tanpa harus menyamakan  pandangan tentang sesuatu yang diamati bersama.

Alasan saya memilih judul “Red 55“ untuk pameran & performance tunggal ini karena penyakit suami yang berlangsung selama bertahun-tahun membuat saya telah begitu seringnya menyaksikan darah mengalir. Akhirnya dari adanya perasaan takut melihat darah sampai menjadi terbiasa dengan darah yang saya lihat terus menerus setiap minggunya. Situasi ini dalam perjalanannya menjadi sumber kekuatan dan inspirasi dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam berkesenian di performance art. Angka 55 yang berada di belakang kata Red itu menandai umur saya sekarang pada saat pameran dan performance tunggal ini berlangsung dalam bulan Agustus 2018 ini.




//ENGLISH

In my first solo exhibition cum performance, I attempt to retrace my steps into the what started it all: why did I do performance art. Especially at the age of 48, when it is considerably late to start on a creative path. In 2011, I presented the premier of this journey in Galeri Barliwith a piece titled "Pasar Kembang".  

Shortly after my postgrad studies in Universitas Pendidikan Indonesia in March 2008, I was faced with a harsh reality of my father's passing. He was previously diagnosed with throat cancer. Two weeks after the incident while our family was still mourning, my husband was faced with a medical verdict to go through a life-time blood dialysis. hence I was left to the role of a semi-single parent. It was an internal conflict that occurred subsequently which brought me to explore the realm of creativity from visual art, literature, poetry, theatre and eventually, performance. 

In performance art, I found peace while at the same time, freedom in sharing my personal experiences. I was provided with a space to share my conflicting responses towards my husband's situation that still provides an equally free space for my audience to interpret the way they see it. They were not, in my terms, positioned in a didactic, boring seat of an audience as there is always a sense of vast, vacant space for meanings in performance art. 

The motivation behind Red 55 is struggles accumulated over the years as a result of my husband's health deterioration. I have witnessed blood so very often that it no longer frightens me, that it has become nothing more than a mere commonplace. Week by week I watch the crimson fluid flowing through the hospital's intravenous tubes that it is now a strength and inspiration towards life and performance practice. 55, a mirroring number that for some, is auspicious, is of my current age. It reflects a crossroad where I need to reevaluate my practice and re-question myself as I step into a life of no turning back. 


 
//  CURRICULUM VITAE
//  ARTWORK
//  TEXT
 //  PERFORMANCE DOCUMENTATION

 

 
 
 
 

dokumentasi foto dan video oleh Aziz Amri
photo and video documentation by Aziz Amri